Viedkamedia's Blog

Proposal Supervisi Pendidikan

PENGARUH SUPERVISI, MOTIVASI DAN BIMBINGAN TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI KEBAKKRAMAT

Judul PTK > Tesis








PENGARUH SUPERVISI,
MOTIVASI DAN BIMBINGAN TERHADAP KINERJA GURU SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI KEBAKKRAMAT









  1. LATAR BELAKANG MASALAH




Peningkatan mutu pendidikan dari tahun ke tahun selalu diupayakan
baik pada pendidikan di tingkat dasar, menengah maupun pendidikan di
perguruan tinggi. Pembenahan itu dilaksanakan di segala bidang antara
lain sarana/fasilitas, kurikulum, pendidik/guru. Perubahan
Undang-undang yang mengatur tentang pendidikan sudah mengalami
perubahan Undang-undang pada tahun 2003 merupakan perubahan dari
Undang-undang Tahun 1989. Pemerintah dalam hal ini telah mengatur dan
mengarahkan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam Pasal 3 menyebutkan tujuan dari pedidikan nasional yang
berbunyi :



Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa, berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggungjawab








Apabila kita perhatikan tujuan pendidikan dalam Sistim Pendidikan
Nasional, yaitu membentuk manusia Indonesia seutuhnya dalam arti
tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas, maka harus didukung
oleh tenaga pendidik yang berkinerja baik. Kinerja tenaga pendidik
akan bisa ditingkatkan bila didukung dengan adanya supervisi,
motivasi dan pemberian bimbingan yang baik.



Menurut Miner (1988 : 14) kinerja adalah tingkat keberhasilan seorang
karyawan di dalam melaksanakan pekerjaan. Adapun beberapa variabel
yang digunakan untuk penilaian perilaku, yaitu : kwalitas pekerjaan,
kwantitas pekerjaan, ketepatan waktu, dan kerjasama dengan rekan
kerja. Jika kinerja diartikan sebagai hasil kerja, maka kinerja dapat
pula diartikan sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh seseorang
atau kelompok, dengan demikian kinerja guru adalah merupakan prestasi
kerja guru.



Supervisi merupakan suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk
membantu guru dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Agar
supervisi dapat dilaksanakan secara efektif, maka harus terdapat azas
keyakinan dan prinsip supervisi. Jika azas dan prinsip-prinsip
tersebut diperhatikan dan benar-benar dilaksanakan oleh supervisor,
maka diharapkan guru dalam melaksanakan tugas cenderung dapat
mencapai tujuan yang diharapkan.



Motivasi adalah keinginan di dalam seseorang individu yang mendorong
ia untuk bertindak (Moekiyat, 2002 : 5). Di dalam organisasi
pemerintah termasuk di lingkungan sekolah, motivasi sangat diperlukan
guna mendorong pegawai dalam menjalankan tugasnya, sehingga dapat
mencapai tujuan yang diharapkan. Pemberian motivasi merupakan salah
satu tugas pimpinan dalam rangka mengarahkan potensi dan sumber daya
manusia untuk pencapaian tujuan organisasi.



Untuk meningkatkan kinerja pegawai perlu adanya bimbingan. Bimbingan
dapat dilakukan oleh siapa saja yang dipandang mampu untuk memberikan
bimbingan. Bimbingan merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada
setiap individu untuk dapat menjalani kegiatan hidup, mengembangkan
sudut pandangnya, mengambil keputusan sendiri dan menanggung beban
sendiri. Bimbingan dan penyuluhan adalah pembahasan suatu masalah
dengan seorang karyawan, dengan maksud pokok untuk membantu karyawan
tersebut agar dapat menangani masalah secara lebih baik. (T. Hani
Handoko 1997: 204).



Pemimpin (leader/head) adalah seseorang yang mempergunakan
wewenang dan kepemimpinannya, mengarahkan bawahan untuk mengerjakan
sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi. (Khotler,
2009:123). Pelaksanaan kepemimpinannya cenderung menumbuhkan
kepercayaan, partisipasi, loyalitas, dan internal motivasi para
bawahan dengan cara persuasive. Hal ini semua akan
diperoleh karena kecakapan, kemampuan, dan perilakunya.



Fenomena yang berkembang seorang pemimpin yang dalam melaksanakan
kepemimpinannya hanya atas kekuasaan (power) yang dimilikinya.
Pelaksanaan kepemimpinannya dengan memberikan
instruksi/perintah-perintah, ancaman hukuman, dan pengawasan yang
ketat.



Dari fenomena kepemimpinan diatas tidak perlu diterapkan sekolah,
karena pemimpin perlu mengetahui persoalan yang sebenarnya pada
proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru, dengan demikian
perlu diketahui pentingnya supervisi, motivasi dan bimbingan kepada
guru untuk meningkatkan kinerja yang ada pada dirinya.








B. PERUMUSAN MASALAH



Berdasarkan pada latar belakang masalah tersebut di atas, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :




  1. Apakah supervisi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap
    kinerja guru di SMA Negeri Kebakkramat ?



  2. Apakah motivasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap
    kinerja guru di SMA Negeri Kebakkramat ?



  3. Apakah bimbingan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap
    kinerja guru di SMA Negeri Kebakkramat ?



  4. Apakah supervisi, motivasi, dan bimbingan secara simultan
    berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru di SMA Negeri
    Kebakkramat ?



  5. Manakah diantara variabel supervisi, motivasi, atau bimbingan yang
    dominan berpengaruh terhadap kinerja guru di SMA Negeri Kebakkramat
    ?









C. TUJUAN PENELITIAN



Tujuan penelitian ini adalah :




  1. Untuk menganalisis signifikansi pengaruh supervisi secara parsial
    terhadap kinerja guru SMAN Kebakkramat.



  2. Untuk menganalisis signifikansi pengaruh motivasi secara parsial
    terhadap kinerja guru SMAN Kebakkramat.



  3. Untuk menganalisis signifikansi pengaruh bimbingan secara parsial
    terhadap kinerja guru SMAN Kebakkramat.



  4. Untuk menganalisis signifikansi pengaruh supervisi, motivasi, dan
    bimbingan secara simultan terhadap kinerja guru SMAN Kebakkramat.



  5. Untuk menganalisis variabel yang berpengaruh
    dominan terhadap kinerja guru SMAN Kebakkramat.






D. MANFAAT
PENELITIAN



Manfaat penelitian antara lain :




  1. Bagi SMAN Kebakkramat




Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan masukan bagi
pimpinan SMA Kebakkramat dalam melakukan pembinaan terhadap guru dan
sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijaksanaan khususnya
dalam rangka meningkatkan kinerja guru.




  1. Bagi peneliti berikutnya




Sebagai bahan referensi bagi peneliti berikutnya, khususnya
penelitian yang relevan dengan obyek penelitian yang sejenis.








E. LANDASAN TEORI




  1. Supervisi



    a. Pengertian Supervisi




Supervisi menurut Buku Pedoman Pelaksanaan Supervisi Pendidikan oleh
Departemen Agama RI (2000: 3) Supervisi merupakan suatu aktivitas
pembinaan yang direncanakan untuk membantu pegawai dalam melakukan
pekerjaan mereka secara efektif. Kalau dikembangkan lebih lanjut,
maka akan terlihat penjabarannya sebagai berikut : supervisi berasal
dari kata super vision, super artinya luar biasa, istimewa atau lebih
dari yang lain vision, artinya kemampuan untuk melihat ( pada inti
persoalan).




    b. Azas supervisi dan prinsip supervisi




Agar supervisi dapat dilaksanakan secara efektif, maka harus terdapat
azas keyakinan dan prinsip supervisi.



Jika azas dan prinsip-prinsip di atas diperhatikan dan benar-benar
dilaksanakan oleh supervisor, maka diharapkan pegawai dalam
melaksanakan tugas cenderung dapat mencapai tujuan yang diharapkan.




    c. Tujuan Supervisi




Supervisi harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan supervisi menurut
Ibnu Syamsi (1988: 110), yaitu untuk mengetahui:




  1. Apakah suatu pelaksanaan itu berjalan sesuai dengan rencana yang
    telah digariskan ?



  2. Apakah segala sesuatu dijalankan sesuai dengan instruksinya ?



  3. Kelemahan dan kesulitan dalam bekerja ?



  4. Mencari jalan keluar, bilamana terdapat kesulitan-kesulitan dan
    diusahakan pemecahannya





    d. Tahap-tahap supervisi




T. Hani Handoko (1997 : 363) mengemukakan bahwa ada lima tahap
kegiatan supervisi, yaitu :





    1. Pencapaian standar pelaksanaan.



    2. Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan. Pengukuran pelaksanaan
      kegiatan.



    3. Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar.



    4. Pengambilan koreksi bila perlu.



    5. Tahap – tahap supervisi di atas dapat digambarkan





2. Motivasi



Menurut Gibson (1996 : 94), “Motivasi ialah konsep yang
menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri siswa yang
memulai dan mengarahkan perilaku”. Menurut George R Terry dalam
Moekiyat (2002: 5): Motivasi adalah keinginan di dalam seseorang
individu yang mendorong ia untuk bertindak. Sedangkan Moekiyat (2002:
5) mengatakan bahwa motivasi mempunyai arti yang sama dengan motif,
yakni suatu daya pendorong atau perangsang untuk melakukan sesuatu.



Motivasi dapat dipandang sebagai bagian integral dari administrasi
kepegawaian dalam rangka proses pembinaan, pengembangan dan
pengarahan tenaga kerja dalam suatu organisasi. Motivasi sebagai
suatu usaha positif dalam menggerakkan, mengerahkan dan mengarahkan
daya dan potensi tenaga kerja agar secara produktif berhasil mencapai
dan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan sebagai
kebutuhan sekaligus sebagai perangsang untuk dapat menggerakkan,
mengerahkan dan mengarahkan potensi serta daya kerja manusia tersebut
ke arah yang diinginkan. Menurut Gibson (1996 : 174), “Motivasi
merupakan proses psikologi yang terjadi pada diri seseorang yang
mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi dan
keputusan yang terjadi pada diri seseorang”.



3. Bimbingan



Untuk meningkatkan kinerja pegawai perlu adanya bimbingan. Bimbingan
dapat dilakukan oleh siapa saja yang dipandang mampu untuk memberikan
bimbingan, baik bimbingan yang berhubungan dengan masalah ilmu
pengetahuan maupun ilmu keagamaan serta dalam rangka pelaksanaan
tugas. Bimbingan merupakan bantuan yang dapat diberikan kepada setiap
individu untuk dapat menjalani kegiatan hidup, mengembangkan sudut
pandangnya, mengambil keputusan sendiri dan menanggung beban sendiri.



Definisi bimbingan dapat disimpulkan sebagai
berikut :




  1. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan.



  2. Bimbingan merupakan suatu proses membantu individu.



  3. Bantuan yang diberikan ialah individu yang memerlukan dalam
    memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.



  4. Bantuan yang diberikan ialah agar individu dapat mengembangkan
    dirinya secara maksimal sesuai dengan potensi atau kemampuannya.



  5. Yang menjadi tujuan bimbingan ialah agar individu dapat menyesuaikan
    diri kepada lingkungannya sesuai dengan potensi yang ada pada
    dirinya.



  6. Untuk pelaksanaan bimbingan diperlukan adanya personil (petugas)
    yang memiliki keahlian-keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang
    bimbingan dan penyuluhan.




(Djumhur dan Muh Surya dalam Suharti Fattah,1998: 26-28)



Pembimbingan dan penyuluhan adalah pembahasan suatu masalah dengan
seorang karyawan, dengan maksud pokok untuk membantu karyawan ter
sebut agar dapat menangani masalah secara lebih baik. (T. Hani
Handoko 1997: 204).



Sehubungan dengan pengertian bimbingan di atas, maka dapat dikatakan
bahwa tujuan pemberian bimbingan adalah agar orang-orang yang
menerima bimbingan dapat mengetahui secara jelas tentang
kekurangan-kekurangan atau hal-hal yang belum dipahami sehingga dapat
memperbaiki kinerja secara efektif.



4. Kinerja



Kinerja adalah suatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan,
kemampuan kerja. Istilah kinerja sering disamakan dengan istilah Job
Performance
atau prestasi kerja ( Kamus Besar Bahasa Indonesia
2000).



Adapun Gibson (1996 : 355) mengatakan kinerja adalah hasil yang
dicapai menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan yang
bersangkutan. Suyadi Prawirosentono (1999 : 2) menyatakan kinerja
adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau kelompok orang
dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing dalam rangka mencapai kegunaan organisasi yang
bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum sesuai moral maupun
etika.



Menurut Miner (1988: 14) kinerja adalah tingkat keberhasilan seorang
karyawan di dalam melaksanakan pekerjaan. Adapun beberapa variabel
yang digunakan untuk penilaian perilaku yang ditujukan dengan skor
total, yaitu : kwalitas pekerjaan, kwantitas pekerjaan, ketepatan
waktu, dan kerjasama dengan rekan kerja.



Dari beberapa pengertian kinerja di atas, maka dapat dikatakan bahwa
kinerja adalah hasil kerja karyawan atau pegawai baik dari segi
kuantitas maupun kualitas sesuai dengan tugas dan wewenang yang
menjadi tanggungjawabnya.



Jika kinerja diartikan sebagai hasil kerja, maka kinerja dapat pula
diartikan sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh seseorang atau
kelompok. Dengan demikian kinerja guru adalah merupakan prestasi
kerja guru SMAN Kebakkramat.








E. PERUMUSAN HIPOTESIS



Berdasarkan teori yang telah dikemukakan, maka hipotesis penelitian
ini dirumuskan sebagai berikut:




  1. Supervisi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja
    guru SMAN Kebakkramat.



  2. Motivasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru
    di SMAN Kebakkramat.



  3. Bimbingan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kinerja
    guru di SMAN Kebakkramat.



  4. Supervisi, motivasi, dan bimbingan secara simultan berpengaruh
    signifikan terhadap kinerja guru di SMAN Kebakkramat.



  5. Supervisi merupakan variabel yang dominan berpengaruh terhadap
    kinerja guru SMAN Kebakkramat.









F. METODE PENELITIAN




  1. Lokasi Penelitian




Lokasi penelitian, yaitu SMAN Kebakkramat, dengan alasan peneliti
bekerja sebagai salah satu guru di SMA N Kebakramat, sehingga dapat
memberikan kemudahan dalam pengambilan data yang diperlukan pada
penelitian ini, selain itu penelitian ini dapat memberikan manfaat
untuk kemajuan sekolah.




  1. Populasi Dan Prosedur
    Penentuan Sampel






    1. Populasi





Pengertian dari populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan
untuk diselidiki (Suharsimi Arikunto, 1998, 110). Jumlah populasi
dalam penelitian ini, yaitu semua guru di SMAN Kebakkramat sebanyak
52 orang.





    1. Sampel





Sehubungan dengan jumlah populasinya kecil, maka seluruh populasi
dijadikan obyek penelitian, atau seluruh populasi dijadikan sampel.
Ha1 ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (1998: 120) yang
menyebutkan apabila jumlah populasi kurang dari 100 orang, maka
seluruh populasi dijadikan obyek penelitian ( total sampling
).









  1. IDENTIFIKASI VARIABEL
    PENELITIAN




Dalam penelitian ini kinerja guru sebagai variabel terikat (Y),
sedangkan supervisi (X1), motivasi (X2), dan bimbingan (X3) sebagai
variabel bebas.









  1. METODE PENGUMPULAN DATA







      1. Sumber Data dan Jenis Data




        1. Sumber Data






              1. Data Primer










Data primer yaitu data yang diperoleh dari obyek penelitian secara
langsung dari responden, yaitu jawaban kuisoner angket tentang
supervisi, motivasi dan bimbingan. Di samping itu dengan cara
observasi, yaitu dengan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian
dan interview, yaitu wawancara langsung dengan responden guna
mendapatkan keterangan yang lebih terperinci dan mendalam.










              1. Data sekunder










Data yang diperoleh dari penelitian pustaka maupun dokumen yang
mendukung terhadap penjelasan yang lengkap mengenai pokok-pokok
permasalahan pada penelitian ini. Data sekunder ini diantaranya :
Absensi guru, data hasil pengamatan guru, dan lain-lain.







        1. Jenis Data






              1. Data Kualitatif










yaitu menganalisa data yang sifatnya umum menjadi masalah yang
sifatnya khusus ( kualitatif deduktif ) atau menganalisa data yang
sifatnya khusus menjadi masalah yang sifatnya umum ( kualitatif
induktif ) berdasar tanggapan responden dari angket atau kuisioner.




















              1. Data Kuantitatif










Data Kuantitatif cara penyelidikan yang dipergunakan dengan meneliti
informasi atau keterangan-keterangan yang diperoleh selama penelitian
di lapangan sehingga dapat diperoleh hasil penelitian yang dapat di
pertanggung jawabkan.



Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, di mana yang
diperlukan adalah hasil data primer berupa hasil skor angket tentang
supervisi motivasi dan bimbingan yang dilakukan oleh atasan karyawan.









  1. Teknik Pengumpulan Data




Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah:






      1. Observasi






Yaitu teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan data
dari obyek penelitian.






      1. Dokumentasi






Yaitu teknik pengumpulan data dengan mencatat antara lain dari
catatan – catatan organisasi, bagan, grafik yang berhubungan dengan
materi penelitian, yaitu tentang pengaruh supervisi, motivasi dan
bimbingan di SMA N Kebakkramat.






      1. Kuesioner






Yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan seperangkat daftar
pertanyaan yang diajukan kepada responden, dengan cara mengajukan
pertanyaan model tertutup. Jawaban sudah tersedia, responden tinggal
memilih alternatif jawaban yang dianggap paling sesuai











      1. HASIL PENGUMPULAN
        DATA







  1. Profil Responden




Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 40
reponden, maka dapat diidentifikasikan mengenai karakteristik
responden sebagai berikut :




  1. Pangkat/Golongan




Berdasarkan golongan, maka responden dalam
penelitian ini diklasifikasikan bahwa responden dalam penelitian ini
dapat didiskripsikan berdasarkan golongan adalah golongan IV sebanyak
1
3 guru atau 25 %,
golongan III sebanyak
31 guru atau 60
%, golongan II sebanyak 8 guru
atau 1
5 %, dan golongan I sebanyak 0 guru
atau 0 %
.




  1. Umur




Berdasarkan umur maka responden dalam penelitian
ini diklasifikasikan bahwa responden dalam penelitian ini

dapat didiskripsikan berdasarkan umur adalah umur
> 50 tahun sebanyak
8 guru atau 15
%, umur 40 – 49 tahun sebanyak 21
guru atau 40 %, umur 30
-39 tahun sebanyak 1
8 guru atau 35
%, dan umur sebanyak 5 guru atau 10 %.




  1. Pendidikan Terakhir




Berdasarkan lama melakukan pendidikan terakhir,
maka responden dalam penelitian ini bahwa responden dalam penelitian
ini adalah sebagian besar berpendidikan terakhir S1 dengan jumlah
46
guru atau 88 % dan S3/S2
sebanyak
6 orang atau 12 %.




  1. Jenis Kelamin




Berdasarkan lama melakukan jenis kelamin, maka responden dalam
penelitian ini bahwa responden dalam penelitian ini adalah sebagian
besar laki-laki sebanyak 22 guru atau 55% dan perempuan sebanyak 18
orang atau 45 %.




  1. Status




Berdasarkan lama melakukan status, maka responden
dalam penelitian ini bahwa responden dalam penelitian ini adalah
sebagian besar berstatus kawin sebanyak
46 guru
atau 88% dan belum kawin sebanyak
6 orang
atau 12 %.











      1. VALIDITAS DAN RELIABELITAS






Uji validitas adalah ketepatan atau kecermatan
dalam mengukur instrumen suatu penelitian. Uji validitas digunakan
untuk mengukur valid dan tidaknya suatu kuisener.
Uji
validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor
masing-masing butir pernyataan dengan total skor sehingga didapat
nilai Pearson Correlation.



Disamping itu mengukur validitas butir bisa dengan membandingkan
antara r hitung dengan r tabel, jika r hitung lebih besar dari pada r
tabel naka butir pertanyaan tersebut valid. Dari pengolahan data yang
telah dilakukan diperoleh hasil tampilan output SPSS sebagai berikut
:









  1. Uji Validitas





      1. Uji Validitas butir pertanyaan dari variabel Supervisi






Variabel supervisi terdiri dari 13 item pertanyaan dengan hasil
pengujian dapat dijelaskan bahwa r hitung > r tabel (0,272) untuk
butir pertanyaan S1, S2, S3, S4, S5, S6, S7, S8, S9, S10, S11 dan
S12, maka butir pertanyaan tersebut adalah valid, sehingga butir item
tersebut mampu menjelaskan variabel supervisi atau valid.






      1. Uji Validitas butir pertanyaan dari variabel Motivasi






Variabel supervisi terdiri dari 10 item pertanyaan dengan hasil
pengujian dapat dijelaskan bahwa r hitung > r tabel (0,272) untuk
butir pertanyaan M1, M2, M3, M4, M5, M6, M7, M8, M9, dan M10, maka
butir pertanyaan tersebut adalah valid, sehingga butir item tersebut
mampu menjelaskan variabel supervisi atau valid.






      1. Uji Validitas butir pertanyaan dari variabel Bimbingan






Variabel supervisi terdiri dari 10 item pertanyaan dengan hasil
pengujian dapat dijelaskan bahwa r hitung > r tabel (0,272) untuk
butir pertanyaan B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7 dan B8, maka butir
pertanyaan tersebut adalah valid, sehingga butir item tersebut mampu
menjelaskan variabel supervisi atau valid.






      1. Uji Validitas butir pertanyaan dari variabel Kinerja






Variabel supervisi terdiri dari 8 item pertanyaan dengan hasil
pengujian dapat dijelaskan bahwa r hitung > r tabel (0,272) untuk
butir pertanyaan K1, K2, K3, K4, K5, K6, dan K7, maka butir
pertanyaan tersebut adalah valid, sehingga butir item tersebut mampu
menjelaskan variabel supervisi atau valid.









  1. Reliabilitas




Reliabilitas merupakan alat untuk mengukur suatu kuisener yang
merupakan indicator dari variabel. Suatu kuisener dikatakan handal
atau reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah
konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas dilakukan
dengan menggunakan uji statistic Cronbach Alpha, dimana suatu
variabel dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha >
0,6. (Nunnaly, 1967).Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa
bahwa nilai Cronbach Alpha dari masing-masing variabel di atas
0,60 sehingga variabel-variabel yang digunakan adalah reliabel.











      1. ANALISIS DATA







  1. Uji Persyaratan Regresi atau Uji Asumsi Klasik






    1. Normalitas





Pengujian normalitas dapat dilakukan dengan menguji unstandardized
residual
dari model regresi yang dihasilkan dengan menggunakan
SPSS versi 10.00 dapat diperoleh hasil menunjukkan bahwa
normalisasi data dengan nilai normality untuk X1 sebesar 1,242 >
0,05 menunjukkan bahwa data X1 berdistribusi normal. Hal ini juga
berlaku untuk semua data yang ada berdistribusi normal, angka
statistik menunjukkan nilai data lebih besar dari 0,05.





    1. Uji Multikolinearitas





Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan
linnear antar variabel independen dalam model regresi. Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel
independen. Pendeteksian adanya multikoliniaritas menggunakan
collinearity diagnostics hasil perhitungan nilai VIF lebih kecil dari
10,0 menunjukkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel
independen dalam model regresi. Pengolahan data penelitian ini
diperoleh hasil bahwa nilai VIF supervisi sebesar 1,830, nilai VIF
motivasi sebesar 1,026, dan nilai VIF bimbingan sebesar 1,813,
sehingga tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam
penelitian ini.





    1. Uji Heterokedastisitas





Uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik heterokedastisitas, yaitu adanya
ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan model
regresi. Nilai semua t hitung adalah berturut-turut sebagai berikut
14,326, 0,912 dan 0,844, sedangkan nilai t tabel adalah 2,007. karena
nilai t hitung berada pada – t tabel ≤ t hitung ≤ t
tabel, sehingga – 2,024 ≤ t hitung ≤ 2,024 maka Ho
diterima artinya pengujian residual pada penelitian ini tidak ada
gejala heterokedastisitas pada model regresi.





    1. Uji Autokorelasi





Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik autokorelasi, yaitu korelasi yang terjadi
antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lainnya pada
model regresi. Presyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya
autokorelasi dalam model regresi. Faktor penyebab autokorelasi antara
lain adanya kesalahan dalam pembentukan model dan tidak memasukkan
variabel yang penting. Akibatnya adanya autokorelasi adalah parameter
yang diestimasi menjadi bias sehingga tidak efisien.



Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah dalam suatu model
regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode
t dengan kesalahan pada periode t-1. Hasil yang diperoleh dari hasil
pengolahan data seringkali mengalami bias atau tidak efisien. Salah
satu penyebabnya karena data tersebut mengandung autokorelasi.



Hal ini menunjukkan error pada periode sekarang dipengaruhi
oleh error pada periode sebelumnya. Dimana keputusan dapat
diambil pada kondisi tertentu. Dari hasil uji
autokorelasi diatas diketahui
obs*R-square = 0,569
> 0,05. Hal ini dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi pada
model regresi.









  1. Uji Hipotesis




    1. Model Persamaan Regresi Berganda





Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh
supervisi, motivasi, dan bimbingan terhadap kinerja guru. Berdasarkan
hasil perhitungan dengan menggunakan program statistik komputer SPSS
for Windows diperoleh hasil persamaan regresi linier berganda
sebagai berikut :



Y = 0,224 +
0,
545 X1
+ 0,036
X2
+ 0,052
X3



Dari hasil model persamaan regresi berganda diatas maka dapat
diinterprestasikan sebagai berikut :





    1. b0 = 0,224





Artinya apabila supervisi
(X1),
motivasi (X2),
dan bimbingan
(X3),
sama dengan nol, maka kenerja guru (Y) SMA
Negeri Kebakramat Kabupaten Karanganyar bernilai
positif
dengan
asumsi variabel lain adalah konstan
(cateris
paribus)
.





    1. b1 = 0,545





Koefisien regresi untuk
variabel supervisi
(X1)
sebesar
0,545 (searah
positif) artinya jika
supervisi
(X1)
meningkat, maka kinerja guru (Y)
SMA Negeri Kebakramat
Kabupaten Karanganyar akan meningkat.















    1. b2 =
      0,036





Koefisien regresi untuk
variabel
motivasi (X2)
sebesar
0,036 (searah
positif) artinya jika
motivasi
(X2)
meningkat, maka kinerja guru (Y)
SMA Negeri Kebakramat
Kabupaten Karanganyar akan meningkat.





    1. b3 =
      0,052





Koefisien regresi untuk
variabel
bimbingan (X3)
sebesar
0,052 (searah
positif) artinya jika
bimbingan
(X3)
meningkat, maka kinerja guru (Y)
SMA Negeri Kebakramat
Kabupaten Karanganyar akan meningkat.





    1. Uji t






  1. Pengujian pengaruh variabel supervisi (X1)
    terhadap variabel
    kinerja guru (Y) SMA
    Negeri Kebakramat Kabupaten Karanganyar.




Berdasarkan hasil olah data diperoleh nilai
t
-statistik =
14,326 > t-tabel
1,675, maka disimpulkan bahwa ada pengaruh negatif
antara supervisi
(X1)
terhadap
kinerja guru (Y) SMA Negeri
Kebakramat Kabupaten Karanganyar.



Variabel supervisi mempunyai nilai signifikansi
sebesar 0,0
00 < 0,05 sehingga variabel
ini berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru, sehingga semakin
tinggi nilai supervisi maka akan menaikkan kinerja guru.




  1. Pengujian pengaruh variabel motivasi (X2)
    terhadap variabel
    kinerja guru (Y) SMA
    Negeri Kebakramat Kabupaten Karanganyar.




Berdasarkan hasil olah data diperoleh nilai
t
-statistik =
0,912 < t-tabel
1,675, maka disimpulkan
bahwa
tidak ada pengaruh positif dan
signifikan antara motivasi
(X2)
terhadap
kinerja guru (Y) SMA Negeri
Kebakramat Kabupaten Karanganyar.



Variabel motivasi (X2)
mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,
366 > 0,05
sehingga variabel ini
tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja guru.




  1. Pengujian pengaruh variabel bimbingan (X3)
    terhadap variabel
    kinerja guru (Y) SMA
    Negeri Kebakramat Kabupaten Karanganyar.




Berdasarkan hasil olah data diperoleh nilai
t
-statistik =
0,844 < t-tabel
1,675, maka disimpulkan bahwa tidak ada
pengaruh
positif dan signifikan antara
bimbingan (X
3)
terhadap
kinerja guru (Y) SMA Negeri
Kebakramat Kabupaten Karanganyar.



Variabel bimbingan (X3)
mempunyai nilai signifikansi sebesar 0,
403 > 0,05
sehingga variabel ini
tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja guru.










    1. Uji F test





Untuk menentukan tingkat signifikansi pengaruh variabel independen
bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependennya, maka digunakan
Uji F (F-test). Adapun hasil uji-F masing-masing tahun
penelitian adalah sebagai berikut :




  1. Tingkat Signifikansi Pengaruh secara simultan Supervisi, motivasi
    dan bimbingan terhadap kinerja guru .





  1. Level of significant (a)
    = 0,05




Dengan derajat kebebasan df1 = n-1 = 3, df2 = (n-k-1) = 52-3-1 = 48



Ftabel = 2,798




  1. Hasil uji-F menunjukkan bahwa nilai Fhitung sebesar
    133,764 dengan signifikansi F sebesar 0,000 atau lebih kecil dari
    0,05. Fhitung tersebut mengindikasikan bahwa kontribusi
    pengaruh secara simultan dari variabel supervisi, motivasi, dan
    bimbingan terhadap kinerja guru adalah
    signifikan.






    1. Pengujian R2 (Koefisien Determinasi)





Hasil dari regresi dengan metode OLS diperoleh
adjusted R2
(Koefisien Determinasi) sebesar 0,886
artinya variasi lain
variabel dependen (Y) dalam model
kinerja guru (Y)
SMA Negeri Kebakramat Kabupaten Karanganyar dijelaskan
oleh variabel independen (X) yaitu
supervisi
(X1),
motivasi (X2),
dan
bimbingan (X3)
sebesar
88,6 %,
sedangkan sisanya sebesar
11,4 %
dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dihipotesiskan atau variabel
lain yang tidak dimasukkan di dalam model.





    1. Pengujian Variabel Dominan Berpengaruh





Berdasarkan hasil
olah data nilai koefisien regresi variabel
supervisi
(X
1) =
14,326, motivasi (X2)
= 0,
912, bimbingan (X3)
= 0,
844. Nilai
koefisien regresi variabel supervisi
yang
paling besar dibandingkan
nilai
koefisien regresi variabel lainnya, sehingga supervisi

merupakan variabel paling dominan dalam
mempengaruhi
kinerja guru (Y) SMA
Negeri Kebakramat Kabupaten Karanganyar.











      1. IMPLIKASI DAN KEBIJAKAN






Masalah hubungan atasan dan bawahan yang digambarkan dalam kegiatan
supervisi, motivasi dan bimbingan dalam suatu organisasi merupakan
salah satu faktor yang menentukan atas berhasil tidaknya suatu tujuan
organisasi tercapai,, Kepemimpinan yang sukses, menunjukkan bahwa
pengelolaan suatu organisasi berhasil dengan sukses pula. Pimpinan
yang berhasil menurut Kartono (1993 : 124), mempunyai 3 hal yaitu :
mampu mengantisipasi perubahan yang tiba-tiba dalam proses
pengelolaan organisasi, berhasil mengoreksi kelemahan-kelemahan yang
timbul dan sanggup membawa organisasi kepada sasaran dalam jangka
panjang yang sudah ditetapkan.



Untuk masalah motivasi dalam suatu organisasi ternyata mempunyai arti
penting bagi manusia yang melakukan aktivitas didalamnya, karena
motivasi akan berhubungan secara langsung maupun tidak langsung
dengan manusia didalamnya. Motivasi dalam
organisasi merupakan factor pokok yang menentukan tingkah laku dalam
aktivitas.



Agar proses belajar mengajar dapat dilaksnakan secara efektif dan
efisien, serta mencapai hasil yang diharapkan, diperlukan kegiatan
manajemen program pengajaran. Hal ini bertujuan untuk membangun
keseluruhan proses penyelenggaraan kegiatan di bidang pengajaran yang
bertujuan agar keseluruhan kegiatan pengajaran terlaksana secara
efektif dan efisien.



Kepala sekolah merupakan seorang manajer di sekolah. Ia harus
bertanggungjawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian
perubahan atau perbaikan program pengajaran disekolah. Untuk
kepentingan tersebut, sedikitnya terdapat empat langkah yang harus
dilakukan, yaitu :




  1. Menilai kesesuaian program dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan
    murid.



  2. meningkatkan perencanaan program



  3. memilih dan melaksanakan program dan



  4. menilai perubahan program




Untuk menjamin efektifitas pengembangan kurikulum dan program
pengajaran dalam menajemen berbasis sekolah, kepala sekolah sebagai
pengelola program pengajaran bersama dengan guru-guru harus
menjabarkan isi kurikulum secara lebih rinci dan operasional ke dalam
program tahunan, catur wulan, dan bulanan. Adapun program mingguan
atau program satuan pelajaran, wajib dikembangkan sebelum melakukan
kegiatan belajar mengajar. Berikut diperinci beberapa prinsip yang
harus diperhatikan :




  1. Tujuan yang harus dikehendaki harus jelas, makin operasional tujuan,
    makin mudah terlihat dan makin tepat program-program yang
    dikembangkan untuk mencapai tujuan.



  2. Program itu harus disederhanakan dan fleksibel



  3. Program-program yang disusun dan dikembangkan harus sesuai
    dengantujuan yang telah ditetapkan.



  4. Program yang dikembangkan harus menyeluruh dan harus jelas
    pencapaiannya.



  5. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah.




Kegiatan ini akan tercapai dengan maksimal jika dilakukan supervisi,
motivasi dan bimbingan oleh atasannya. Dengan kegiatan ini maka guru
akan terkontrol terutama melakukan proses belajar mengajar..



Disamping itu kegiatan supervisi, pemberian motivasi, dan bimbingan
adalah sesuatu yang penting bagi guru, kegiatan ini dapat dilakukan
sebagai kewenangan Kepala Sekolah sebagai atasan langsung dari
guru-guru. Hal ini perlu sebagai wujud kepedulian atasan kepada
bawahannya.



Karena banyaknya program yang harus dikerjakan oleh guru baik sebagai
tenaga pengajar, namun tidak lepas dari tugas-tugas administrasi dan
menyiapkan materi pelajaran atau media yang akan digunakan pada saat
mengajar. Hal inilah yang harus sering diinggatkan kepada guru agar
tidak terlupakan. Kegiatan supervisi, motivasi dan bimbingan mengacu
agar tugas-tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA


















Alex S Nitisemito, 1998, Manajemen Personalia (Manajemen Sumber
Daya Manusia)
, Ghalia Indonesia Jakarta.








Departemen Agama RI, 2000, Pedoman Pelaksanaan Supervisi
Pendidikan Agama
, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama
Islam.








Endang S Handayani, 2006, Pengaruh Disiplin Kerja dan Motivasi
Kerja terhadap kinerja karyawan koperasi yang tergabung pada Pusat
Koperasi Smpan Pinjam Artho Kuncoro Karananyar
. Skripsi.








Fachruddin, 2006, Pengaruh Persepsi Kompensasi Finansial dan
efektivitas Bimbingan Terhadap Kinerja Penghulu dan Pembantu Penghulu
di Lingkungan kantor Departemen Agama Kabupaten Karanganyar
.
Tesis Program Studi Magister Manajemen Program Pasca Sarjana
Universitas Slamet Riyadi Surakarta ( Tidak dipublikasikan ).








Gibson James, Joko M Ivanecevich dan James H.Donnely Jr, 1996,
Organisasi Perilaku Struktur, Proses.Bina Aksara Jilid I
(Terjemahan Ninuk Hadiasni). Jakarta








Gujarati DN, 1995, Basic Econometric, 3rd ed. Mc
Graw-Hill, Inc. New York.








Kotler, Philips, 2000, Manajemen Pemasaran : Analisis,
Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian
. Terjemahan Ancella
Anitawati Hermawan, Edisi 8, Salemba Empat, Jakarta.








L. Suyono, 2006. Pengaruh
Lingkungan Kerja dan Gaya Kepemimpinan terhadap Motivasi kerja
pegawai di Kantor Informasi dan Komunikasi Kabupaten Karanganyar
.
Skripsi.








Imam Ghozali, 2002, Aplikasi
Analisis Multivariante SPSS
. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.








Ibnu Syamsi, l988, Pokok-pokok Organisasi dan Menejemen 1988,
Jakarta Bina Aksara








Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000, Jakarta Bina Aksara








Miner, John B, 1988, Organisasi Behavior Performance productivity.
5 Th Edition Random House.Inc, New York.








Moekiyat, 2002, Dasar-Dasar
Motivasi
, Pioner Jaya, Bandung.








Pedoman Penyusunan Tesis, 2006, Program Studi Magister Majemen
Universitas Slamet Riyadi, Program Pasca Sarjana Universitas Slamet
Riyadi, Surakarta








Republik Indonesia Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001, Tugas
dan Fungsi Kewenangan Susunan Organisasi dan Tata Kerja tentang
Kedudukan Departemen Agama
.








Republik Indonesia, Departemen Agama, 2003, Pedoman Pegawai
Pencatat Nikah (PPN ),
Direktorat Jenderal Bimas Islam dan
Penyelenggaraan Haji, Jakarta.








Robbin Stephen P, 2006, Perilaku Organisasi. Edisi Bahasa
Indonesia, Jilid pertama, PT.Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.








Santoso, Singgih, 2000, SPSS. Statistik Parametrik, PT Elex
Media Komputindo, Jakarta.








Suharsimi Arikunto, 1998, Prosedur
Penelitian suatu pendekatan praktek
, PT
Rineka Cipta, Jakarta.







Sulaiman,
2002,
SPSS. Statistik Parametrik, Jakarta : PT Elex
Media Komputindo.







Sudarno, 2006, Pengaruh
supervisi dan bimbingan terhadap prestasi kerja guru di lingkungan
Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Ngargoyoso
Kabupaten Karanganyar
. Tesis
Program Magister Manajemen Program Pasca Sarjana Universitas Slamet
Riyadi Surakarta ( Tidak dipublikasikan )








Sudibyo Triatmojo, 2000, Sistim Pengawasan, LAN, Jakarta







Sugiyono, 2005, Methode Penelitian Administrasi, Alpabeta,
Bandung







Suharti Fattah, 1998, Bimbingan dan Konseling, FKIP
Universitas Tanjungpura, Pontianak.







Sutarno, 2005, Modul Praktek Mata Kuliah Metode Kuantitatif
Bisnis
, Magister Manajemen Universitas Slamet Riyadi, Surakarta.







Suyadi Prawirosentono, 1999, Manajemen SDM Kebijakan Kinerja
Karyawan
, BPFE, Yogyakarta







T. Hani Handoko, 1997, Manajemen Personalia dan Sumber daya
Manusia
, BPFE, Yogyakarta.







Undang-undang No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.








Winardi, 1999, Perencanaan dan Pengawasan Dalam Bidang Manajemen,
Mandar Maju, Jakarta









Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: